Seputar Ujian Nasional 2010 SMA Negeri 3 Madiun

Gelar doa bersama, pelatihan mental, sampai ikrar kejujuran yang digelar di berbagai sekolah, baik swasta maupun negeri, mewarnai fase-fase akhir menjelang detik-detik ujian nasional (Kompas, 17/4).

Fenomena ini menunjukkan betapa dunia pendidikan telah dikelola dengan visi pendidikan dangkal dan spiritualitas terpecah, lebih suka mencari jalan pintas, serta latah dengan gerakan massa yang dipolitisasi seperti layaknya ikrar kampanye damai partai politik menjelang pemilu.

Mengelola dunia pendidikan tidak sama dengan mengelola organisasi massa, yang di tangan para politisi sekadar alat pemenangan untuk memenangi kepentingan sesaat. Secara natural, kekuatan massa gampang dimanipulasi karena tangan dan kaki lebih banyak jumlahnya daripada otak yang berpikir.

Padahal, pendidikan merupakan kinerja harian rutin, bukan momental yang harus memperlakukan individu siswa sebagai pribadi, bukan sebagai kerumunan massa, di mana sistem yang dibangun mestinya mampu menjadi dasar bertindak dalam praksis harian sehingga kultur edukatif benar-benar hadir dan menjiwai seluruh proses pendidikan.

Visi dangkal

Mengandalkan doa bersama, pelatihan mental mendadak, dan ikrar kejujuran menjelang UN juga menunjukkan kedangkalan visi para pengelola lembaga pendidikan. Pembenaran perilaku ini sering ditambahi argumen, mereka sudah membuat persiapan intensif dengan mengadakan pelatihan soal-soal, bahkan jika perlu mengundang lembaga bimbingan belajar masuk sekolah.

Inilah metode jalan pintas yang paling sering dilakukan di sekolah kita. Kedangkalan itu terjadi karena pendidikan hanya mengutamakan target akhir lulus UN, memperalat siswa demi kepentingan dan nama baik sekolah dengan cara membuat siswa hanya belajar secara intensif menjelang UN, sementara dalam praksis harian di sekolah selama tiga tahun, siswa tidak pernah diajarkan apa artinya bertekun dan belajar serius.

Menumbuhkan kesungguhan, daya tahan, dan motivasi internal dalam belajar sering terlewatkan pada fase ini karena pendidik dan siswa berpikir, ujian masih jauh.

Dunia pendidikan bukan dunia tukang sulap yang bisa membuat hal-hal aneh dalam sekejap. Belajar membutuhkan ketekunan, konsistensi, serta keseriusan dari pendidik dan siswa. Kesungguhan ini kian terbantu dengan menciptakan iklim harian dan kultur sekolah yang mendukung siswa gemar belajar tanpa dipaksa atau diancam perolehan nilai. Visi pendidikan itu seharusnya bersifat konsisten, konkret, dan mengembangkan pendampingan individu siswa secara intensif sejak mereka memasuki tahun ajaran baru sampai menghadapi UN.

Mentalitas jalan pintas bukan visi pendidikan yang adekuat, yang mampu menyiapkan generasi muda menjadi individu yang konsisten, tahan banting, serta mengerti makna pembelajaran bagi hidupnya sendiri dan bagi perkembangan masyarakat.

Model jalan pintas juga bertentangan dengan logika pendidikan karena untuk berubah membutuhkan waktu. Pendidikan akan hancur jika diisi pendidik yang memiliki visi dangkal yang tidak sabar dan cenderung ingin melihat hasil akhir secara instan.

Spiritualitas terpecah

Model gelar doa bersama menjelang UN, meski baik, tetap menunjukkan sebuah kerohanian dangkal yang coba diajarkan kepada para murid, seolah doa-doa itu baru dibutuhkan saat mau menghadapi UN.

Tentu tidak ada yang salah dengan mohon doa restu dari Tuhan agar dapat melaksanakan UN dengan baik. Namun, kerohanian sejati dalam pendidikan seharusnya berakar pada kultur sekolah yang mampu menghormati keyakinan iman individu lain sebagai pilihan bebas, menghormati keragamanan. Lebih penting dari itu, lingkungan sekolah mestinya mampu membangun kultur yang menghormati keyakinan individu karena individu itu adalah ciptaan yang bernilai, berharga, dan bermartabat dihadapan Sang Pencipta.

Kebencian terhadap penganut agama lain yang menonjol dalam masyarakat kita bisa jadi karena sekolah lebih mengajarkan permusuhan, menekankan perbedaan sebagai batas daripada sebagai lahan untuk bekerja sama dalam membangun masyarakat. Lebih parah dari itu, kerohanian dalam pendidikan bisa diredusir sekadar ritualisme ibadah dan tata cara berdoa yang tidak merengkuh persoalan lebih mendalam dalam konteks komunikasi antarindividu yang berbeda agama di masyarakat. Dengan demikian, perilaku ibadah yang sebenarnya bersifat membangun masyarakat malah menyemai ketidakadilan, permusuhan, dan perpecahan daripada menyumbangkan penghormatan dan perdamaian.

Latahisme kacangan

Membuat ikrar kejujuran juga menunjukkan gejala latahisme kacangan dalam pendidikan. Kita menganggap dunia pendidikan seperti panggung politik, di mana konflik, perseteruan, dan persoalan yang ada akan bisa diatasi dengan jalan membuat ikrar bersama. Latahisme demikian ini memalukan. Para pendidik perlu menyadari, model ikrar seperti ini tidak akan mengubah banyak hal jika praksis harian dalam sekolah dan kultur sekolah yang kita bangun tidak memiliki visi pembentukan karakter yang kokoh, di mana praksis kejujuran dapat dilihat dalam ritme hidup harian di lingkungan sekolah.

Ikrar kejujuran tidak akan otomatis menghilangkan kultur kebohongan, ketidakjujuran, dan penyelewengan yang telah meracuni dunia pendidikan kita. Para pendidik semestinya kembali berpaling pada nuraninya dan lebih baik bersama-sama membongkar kultur dalam pendidikan kita yang tidak adil dan tidak jujur dengan mengevaluasi kinerja harian di sekolah, dengan melihat apakah tata peraturan dan sistem yang kita buat untuk menanamkan nilai kejujuran dan keadilan ini telah hadir dalam lembaga pendidikan kita.

Sebagai pendidik yang bertanggung jawab terhadap nasib bangsa ini di masa depan, pengambilan jalan pintas, promosi spiritualitas terpecah, dan semangat menghidupi visi dangkal ini harus dijauhkan dari lembaga pendidikan kita. Demikian juga mencontoh perilaku politisi yang memanfaatkan massa demi kepentingan politiknya dengan membuat ikrar bersama, harus dihilangkan dari pendidikan kita. Ikrar itu menjadi tak bermakna bagi siswa dan pendidik jika kultur sekolah tetap terbangun melalui sistem pendidikan yang mempromosikan kegemaran mencontek, berbohong, tidak jujur, dan manipulatif.

Pelaksanaan Ujian Nasional tahun 2010, untuk tingkat SMA telah dimulai pada hari Senin, 22 Maret 2010 s/d 26 Maret 2010. Terlepas dari pro dan kontra tentang Ujian Nasional, segenap stakeholder SMA3 termasuk panitia, pengawas dan tak terkecuali siswa siswi SMA negeri 3 Madiun berupaya untuk melaksanakan agenda Ujian Nasional tahun ini lebih berkualitas. berikut adalah aktivitas yang sempat direkam.

Siap memasuki ruang Ujian Nasional

4 pemikiran pada “Seputar Ujian Nasional 2010 SMA Negeri 3 Madiun

  1. MIS-PERSEPSI KEKUATAN DOA. Saya coba urun rembug Mas Hend. Ada sebagian mis-persepsi di masyarakat kita tentang kekuatan doa. Sebagian berpersepsi doa itu mampu merubah nasib or banyak orang menyatakan dengan istilah takdir, sembari meninggalkan kaidah kausalitas (demensi ikhtiar or kerja keras). Pandangan ini berakar dari keyakinan fatalistik yang diwariskan oleh pola pikir lama or tradisi berfikir masyarakat yang masih primitif. Doa itu seharusnya dipersepsikan sebagai bentuk ketundukan dan kelemahan makhluk di hadapan al Khaliq. Doa juga merupakan sebentuk kepasrahan dari sebuah proses dan out put. Namun sekali lagi tidak membuang berbagai jenis usaha, strategi, kreatfitas dan management proses. Kanjeng Nabi memberi contoh, sebuah kutipan doa pada saat peristiwa Badar, Ketika itu beliau bersama 300 sahabat berjibaku melawan 1000 serdadu Quraisy. Beliau berdoa, Ya Allah kalau Engkau tidak memenangkan kami, maka tidak ada lagi hamba yang akan menyembah-MU. Tetapi pada saat bersaman beliau itu tunduk pada strategi tempur yang diusulkan Habab bin Mundzir seorang ahli perang dari Madinah, yakni kuasai Sumur Badar. Wallhu A’lam

    1. Setuju sekali pak Bay…. Aku senang sekali atas comment panjenengan. suatu saat kita bisa share lagi. maju terus pendidikan berbasis akhlak mulia.

  2. salam kenal pak Hend, saya salah satu alumni SMA3 madiun yang sekarang masih kuliah di yogyakarta.

    memang saya sendiri semasa menjadi siswa merasa bingung dengan sistem pendidikan di sekolah, apalagi saat itu (saya angkatan 2002 lulus 2005)SMA3 menjadi sekolah percontohan untuk sistem pembelajaran Quantum Learning dan KBK. saat itu bagi saya sekolah adalah proses yang sangat melelahan dan membosankan. apalagi saat kelas tiga menjelang UN, saya “Dipaksa” untuk mengikuti pembelajaran dari pagi jam setengah tujuh hingga jam empat sore.
    terus terang, stamina belajar saya tidak mampu mengikuti sistem tersebut, dan akhirnya saya lebih sering bolos. untungnya di balik kebandelan saya, saya masih memiliki keingian untuk belajar, dimanapun, kapanpun, tanpa perlu kungkungan ruang kelas yang suasananya sekarat (untungnya masih ada beberapa guru yang saya anggap kompeten dalam mengajar).
    namun pada akhirnya, saya tetap bersyukur bisa lulus UN, walau hampir tanpa prestasi akademis apapun (hanya nilai UN Bahasa Inggris saya yang kebetulan menduduki peringkat pertama di sekolah saja yang mungkin bisa saya banggakan) dan berhasil diterima di universitas tertua di negeri ini.
    sebagai siswa saya sangat menghargai usaha bapak-ibu guru yang telah dengan ikhlas membimbing dan mendidik saya, dengan caranya masing2. namun ada suatu perasaan yang masih mengganjal, dimana saya merasa masih banyak potensi saya yang belum tergali. bahkan hingga saat menjadi mahasiswa, saya masih merasakan hal ini, karena saya menilai sistem KBK yang saya alami sejak SMA mirip dengan sistem perkuliahan. namun menurut saya bukan KBK-nya yang salah, namun kita sebagaian besar guru dan murid yang masih sama2 belajar mencari sebuah sistem pendidikan yang paling sesuai.

    kalau untuk saat ini, saya belum tahu begaimana perkembangan sistem pembelajaran di SMA3 madiun tercinta, jadi mohon penjelasannya. kebetulan juga adik saya saat ini juga adalah salah satu peserta UN di SMA3 madiun juga, semoga dia lulus, soalnya sudah diterima di berbagai perguruan tinggi.
    kalau bapak, maaf koq saya lupa ya? kayaknya dulu tidak sempat di ajari panjenengan di kelas.

    saya sangat mengapresiasi usaha pemikiran pak Hend tentang pendidikan, dan menurut saya sangat sayang sekali jika tulisan ini hanya dibaca sedikit orang. saya harap panjenengan mau mem-posting tulisan ini di news forum yang cukup terkenal, misalnya di kompasiana.com (saya juga mulai menulis disana) supaya lebih banyak mendapat tanggapan, terutama dari kalangan akademisi dan alumni SMA3.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s