Pendidikan Gratis: Terlalu Ambisius?

Sumber: www.AnneAhira.com

Pendidikan gratis?

Seperti PSSI bermimpi masuk ke final piala dunia. Mungkinkah?

Mungkin. Namun, butuh kerja keras. Sangat, sangat keras. Terlalu ambisiuskah?

Tidak juga.

Suatu mimpi yang mulia memang membutuhkan ambisi yang besar. Ambisi yang menggerakkan setiap sendi tulang untuk terus maju tanpa memikirkan kendala yang selalu mampir mengetuk pintu ruang kelas yang mungkin tidak layak dipakai lagi.

Terkadang, pendidikan gratis identik dengan sekolah yang jelek, sangat seadanya, dengan guru yang sangat minim. Minim jumlah, minim fasilitas, minim dari segala lini. Sebenarnya, tidak sedikit yang telah mencoba memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak kurang mampu. Namun, tidak sedikit juga yang terseok-seok melawan mahalnya dana untuk melanjutkan pendidikan gratis tersebut.

Beberapa tahun lalu, dua ibu kembar mendirikan sekolah Kartini di bawah sebuah jalan tol. Sekolah tersebut mendapatkan perhatian yang luas dari banyak orang. Ratusan anak bersekolah di sana. Namun, setelah sekolah tersebut terbakar, perjuangan kedua ibu kembar terlihat semakin berat. Sudah agak jarang pemberitaan tentang sekolah Kartini.

Permasalahan dana selalu menjadi permasalahan utama dalam menyelenggarakan pendidikan gratis. Banyak kepala daerah yang mencanangkan pendidikan gratis dengan cara membebaskan SPP hingga ke pendidikan menengah atas. Namun, pembebasan SPP belumlah dapat dikatakan pendidikan gratis. Bukankah biaya sekolah tidak hanya SPP?

Anak-anak masih membutuhkan dana untuk seragam, buku, transportasi, ekskul, dan lain-lain. Intinya, pendidikan gratis, ya, benar-benar gratis. Semuanya. Tanpa ada sepeser uang pun yang dikeluarkan orang tua untuk menyekolahkan anaknya.

Ada beberapa cara untuk menyelenggarakan sekolah yang benar-benar gratis.

Pertama, Gubernur Sumatera Selatan, Alex Nurdin, melibatkan banyak perusahaan besar yang ada di wilayahnya untuk mendukung program pendidikan gratis.

Suatu sekolah bertahap internasional sudah disiapkan untuk melayani kebutuhan pendidikan anak-anak tidak mampu yang mempunyai motivasi besar untuk sekolah.

Pendidikan yang benar-benar gratis dan sangat serius. Tidak minim fasilitas. Tidak minim dana. Program ambisius yang melibatkan banyak pihak dengan komitmen tinggi dari pemerintah. Sampai saat ini, program ini belum menghadapi kendala berarti.

Kedua, pendidikan gratis yang melibatkan anak untuk membiayai sekolahnya sendiri dengan cara bekerja sambil belajar. Bekal keterampilan yang diberikan akan membuat anak lebih mandiri dan akan memiliki karakter entrepreneurship.

Misalnya, setiap anak dibekali 3 ekor kambing atau lima orang anak memelihara satu ekor sapi. Mereka bahu-membahu memelihara hewan ternak tersebut. Hasil dari susu atau penjualan hewan itu digunakan untuk biaya sekolah.

Selain beternak, anak-anak dapat dilibatkan dalam bidang pertanian dan perniagaan lainnya. Anak-anak diajari untuk tidak melulu menerima sesuatu yang gratis tanpa kerja keras. Mereka harus mampu menolong dirinya sendiri. Hanya orang-orang lemah yang selalu mengharapkan segalanya gratis.

Jadi, kegratisan yang diterima menjadi modal dasar untuk menjadi manusia yang nantinya mampu memberikan sesuatu yang gratis kepada orang lain.

Model pendidikan gratis lainnya adalah sistem orang tua asuh. Seperti model nomor dua, anak mendapatkan biaya 100% dari orang tua asuh. Namun, anak juga didayagunakan untuk bisa melakukan sesuatu sehingga dia tidak merasa seperti orang yang patut dikasihani.

Anak tersebut diberi bekal agar bisa membantu dirinya sendiri. Misalnya, bila orang tua asuh mempunyai toko, anak asuh bisa dipekerjakan di toko tersebut. Tentu anak itu tetap diberi imbalan yang pantas atas kerjanya.

Pendidikan gratis tidaklah terlalu sulit bila melibatkan banyak pihak yang mempunyai komitmen yang sama, termasuk anak didiknya. Pendidikan gratis jangan sampai mendidik anak-anak yang hanya bisa menerima tanpa mampu memberi.

Pendidikan gratis adalah tonggak dasar untuk membentuk anak-anak tangguh yang bisa berdikari bagi dirinya sendiri dan orang lain di sekitarnya kelak.