“Sister School” Sudah Efektifkah..?

Ketentuan dalam permendiknas no. 78 tahun 2009 tentang penyelenggaraan SBI menyebutkan bahwa salah satu kriteria kunci yang perlu dipedomani  untuk melaksanakan SBI adalah bahwa sekolah SBI telah bekerjasama/mempunyai mitra dengan sekolah di dalam atau di luar negeri yang bertaraf/berstandar internasional. Mencermati ketentuan tersebut, maka sudah sepatutnya kita sekolah-sekolah RSBI di Indonesia untuk tidak terjebak dalam pemahaman bahwa kemitraan sekolah haruslah dengan sekolah bertaraf internasional di luar negeri. Kenyataan menunjukan bahwa menjalin kemitraan (sister school) dengan sekolah di luar negeri tidak mudah. Permasalahan seperti kesepakatan mengenai jadwal dan bentuk kegiatan kerja sama, biaya perjalanan dan akomodasi selama berada di luar negeri masih menjadi kendala yang tidak sederhana.

Jika kita berpikir logis dan realistis, sesungguhnya menjalin kemitraan antar sekolah bertaraf internasional di dalam negeri juga tidak kalah kualitasnya sepanjang bahwa hubungan kemitraan itu benar-benar dlaksanakan dalam rangka untuk saling berbagi pengalaman, saling membelajarkan di antara kedua lembaga yang bermitra dalam rangka pencapaian standar penyelenggaraan pendidikan bertaraf internasional. Berbagai bidang/komponen penyelenggaraan pendidikan bertaraf internasional yang dapat di”sharing”kan dalam kemitraan tersebut di antaranya adalah (1) pembelajaran berbasis TIK/bilingual e-learning, (2) pengujian bertaraf internasional dll. Bermitra dengan sekolah di dalam negeri tentu jauh lebih efektif dan efisien. Dengan demikian sudah sepantasnya ditumbuhkembangkan semangat kemitraan antar sekolah RSBI/SBI di dalam negeri.

Masalah kita yang sesungguhnya adalah terlambat mengubah budaya bicara ke budaya tulis, dari budaya opini ke budaya data, kita masih harus berpikir mau ke mana?

Bagaikan bebek berenang di lautan, mau minum mencari air. Kita ada dalam gelombang perkembangan teknologi di lautan informasi. Penyebaran penggunaan teknologi komunikasi dan informasi menyebar masif, sampai-sampai kita bisa mengubah pengalokasikan dana dari jajanan ke pulsa.

BB dan facebook jauh lebih cepat membudaya daripada kita bicara soal data dan berpikir kritis gaya akademisi.

Yang perlu kita bangun adalah teaching project, learning project, kolaborative project, atau sekedar say hallo  kepada guru-guru sedunia.

Sebelum kita jauh melangkah, mari kita lakukan kerja sama dengan teman sendiri di sekolah, atau lebih jauh dalam MGMP antar sekolah, dengan sekolah yang setara di dalam negeri dengan lebih memberdayakan teknologi.

Orientasi utamanya adalah bukan berwacana, namun bagaimana kita melakukan langkah-langkah kongkrit yang  kecil dan menghasilkan produk inovatif yang dapat dilihat orang hasilnya, tertulis, dan dipublikasikan. Apa yang dilakukan dan apa yang dihasilkan dapat menjadi bahan kajian umat manusia di mana pun.

Jika budaya semacam itu dapat kita bangun secara perlahan dari sekolah, menyajikannya dalam blog, web sekolah, situs jejaring kerja sama seperti iEarn, globalgateway, dan lain sebagainya. Yang mungkin kita tidak menduga sesungguhnya kita sedang menumpang dalam pesawat yang membawa kita pada pelabuhan dunia.

Mau ke mana kita sesungguhnya? Mau meninggalkan dunia tarik suara, bicara dari hati-ke hati, atau dari kata-ke kata, ke dunia data dan mengekspresikan kata-kata dalam karya tulis pengisi ruang maya. Ruang kecil di sekolah kita dapat kita ubah menjadi ruang internasional, pikiran yang kita ekspresikan melalui kabel joomla, wordpress, yahoo, atau dengan bantuan google, membuat kita hijrah ke dunia yang lain sementara jasad kita masih ada di Indonesia.

Perbedaan cakrawala karena kita memandang, mengolah, dan mehasilkan sesuatu dilihat dari cakrawala Indonesia. Mereka melihat dari langit di mana berpijak. Kita berada di bawah langit yang sama, namun memandang awan dari tempat yang berbeda. Selalu lebih menarik.

 

Sumber : Berbagai bahan diskusi dari millis rSBI

 

Satu pemikiran pada ““Sister School” Sudah Efektifkah..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s